Sergap24.com – Melawi, Kalimantan Barat – Kondisi jalan dan jembatan di Desa Balai Agas, Kecamatan Belimbing, Kabupaten Melawi, kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Infrastruktur yang seharusnya menjadi penunjang utama aktivitas warga justru mengalami kerusakan parah dan dinilai seperti dibiarkan tanpa penanganan serius. Kamis, 14/5/2026.
Ruas jalan dari Kampung Paulus menuju Desa Balai Agas dilaporkan hancur total. Jalan dipenuhi lubang besar, batu berserakan, kubangan lumpur, dan permukaan bergelombang yang membahayakan pengendara.
Tidak hanya itu, jembatan penghubung antarwilayah juga dalam kondisi memprihatinkan. Jembatan yang digunakan warga saat ini hanya terbuat dari kayu hasil swadaya dan gotong royong masyarakat, bukan hasil pembangunan pemerintah.
Saat musim hujan, jalan berubah menjadi lumpur licin yang sulit dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Sebaliknya ketika panas, debu tebal menyelimuti akses jalan dan mengganggu aktivitas warga.
Warga menyoroti Kepala Desa Balai Agas, anggota DPRD Kabupaten Melawi, hingga Bupati Melawi karena dinilai lamban dan tidak serius menangani kerusakan infrastruktur di wilayah pedalaman tersebut.
Masyarakat juga mempertanyakan penggunaan Dana Desa serta anggaran pembangunan infrastruktur yang selama ini dikucurkan pemerintah.
“Setiap tahun cuma janji. Tapi jalan tetap hancur, jembatan tetap rusak. Kami merasa hanya dicari saat butuh suara rakyat,” ujar salah seorang warga Dusun Lintah.
Kerusakan infrastruktur terjadi di ruas jalan dari Kampung Paulus menuju Desa Balai Agas, Kecamatan Belimbing, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.
Jalur tersebut merupakan akses utama masyarakat pedalaman untuk aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pelayanan kesehatan.
Kerusakan jalan dan jembatan disebut warga sudah berlangsung bertahun-tahun dan hingga kini belum mendapatkan penanganan maksimal dari pemerintah terkait.
Kondisi terparah terjadi saat musim hujan, ketika jalan berubah menjadi kubangan lumpur dan menyebabkan masyarakat kesulitan beraktivitas.
Kondisi ini menjadi sorotan karena jalan dan jembatan tersebut merupakan akses vital masyarakat. Rusaknya infrastruktur membuat hasil kebun sulit diangkut, biaya transportasi meningkat, anak sekolah kesulitan berangkat, hingga warga sakit terhambat mendapatkan pelayanan kesehatan.
Warga menilai pemerintah gagal menghadirkan pembangunan yang merata di wilayah pedalaman. Bahkan sebagian masyarakat menduga anggaran pembangunan tidak digunakan secara maksimal untuk kepentingan rakyat.
Akibat jalan dan jembatan rusak, aktivitas masyarakat menjadi lumpuh. Kendaraan sering terjebak lumpur, distribusi barang terganggu, dan keselamatan warga dipertaruhkan setiap hari saat melintasi jalur tersebut.
Masyarakat kini mendesak Pemerintah Kabupaten Melawi, DPRD, dan Pemerintah Desa Balai Agas segera turun tangan melakukan pembangunan jalan dan jembatan permanen yang layak serta tahan lama.
Warga menegaskan, apabila kondisi ini terus dibiarkan, maka kerusakan infrastruktur tersebut menjadi bukti nyata lemahnya keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat pedalaman yang selama ini hanya diberi janji tanpa realisasi.
Editor ; jali
Reporter ; Lala








